Rabu, 19 Oktober 2011

The Way Home

The Way Home

Terbiasa hidup di dunia modern, Sang-woo bagai mendapat mimpi buruk ketika sang ibu memutuskan untuk menitipkannya ke rumah sang nenek yang telah berusia 77 tahun di sebuah desa terpencil demi mempermudah pencarian pekerjaan.

Yang membuat si bocah cilik berusia 7 tahun itu sebal, kediaman si nenek ternyata jauh dari yang dibayangkan mulai dari tiadanya listrik, air yang harus diambil dengan cara menimba, hingga kenyataan bahwa tidak ada satu hal pun yang bisa dikerjakan oleh anak seusianya disana.


Sikap buruk Sang-woo terhadap sang nenek yang bisu-tuli dan sudah bungkuk berlanjut dengan merengek minta dibelikan baterei permainannya yang sudah habis. Tidak cuma itu, si bocah jugamarah-marah saat wanita tua itu, yang salah mengartikan permintaan cucunya untuk dibelikan ayam goreng, memasakkan ayam rebus.


Namun kekerasan hati itu perlahan-lahan mulai luntur saat sang nenek sakit, Sang-woo dengan telaten (meski berulang kali melakukan kesalahan) berusaha merawatnya. Hati si bocah semakin tersentuh karena diam-diam meski kekurangan uang, ibu dari wanita yang melahirkannya itu ternyata memberikannya sejumlah hadiah yang akan selalu terkenang.


Puncaknya terjadi saat Sang-woo harus kembali ke Seoul dan berpisah dengan neneknya. Sebelum pergi, ia memberikan sebuah paket kecil dan saat berada didalam bis bersama sang ibu yang menjemput, mengungkapkan permohonan maafnya lewat bahasa isyarat.

Pesan dari film ini sendiri jelas, bahwa cinta itu bisa dirasakan dari perbuatan tanpa perlu mengobralnya lewat kata-kata dan ciuman di pipi, seperti yang sering ditampilkan oleh film-film khas Hollywood. Dari adegan-adegannya sendiri, yang cenderung ditampilkan sebagai fragmen, banyak terselip pesan-pesan yang lain, antara lain: balaslah keburukan orang lain dengan kebaikan, lakukan sesuatu dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Setiap orang di dunia ini, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan so Kita harus bisa menerima mereka apa adanya dan berfokuslah pada kelebihan tiap-tiap orang.

1 komentar:

  • urban warog says:
    9 November 2011 pukul 00.01

    film yang sangat bagus.....sinetron indonesia seharusnya belajar dari film2 seperti ini...

Posting Komentar